Berikut adalah chord-chord penyembahan yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber ^^
SEMUA DI C –contoh
1-4-1-4
C F C F
1-2m-3m-4
C Dm Em F
1-7-6m-5
C B Am G
1-3m-2m-5
C Em Dm G
1-3m-4-5
C Em F G
1-7-6-5-4-3-2-1 – turun-turun
6m-3m-4-5 (minor)
Am Em F G
6m-4-2m-3sus 3 (minor)
Am F Dm Esus E
4-3m-4-3m
F Em F Em
nah kalo dah mau selesai
4-3m-4-3m-6m-5-4-5-1
F Em F Em Am G F G C
1-6m-2m-5
C Am Dm G
1-6m-2m-57
C Am Dm G7
1-6m-4-5
C Am F G
4-3m-2m-1
F Em Dm C
4-3m-2m- 5
F Em Dm G
Bisa juga 1-7b-4-1 (tapi sangat spesifik pemakaiannya khusus untuk suasana yang megah dan occasionally saja) – C Bb F C
God bless ^^
Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts
Tuesday, June 29, 2010
Monday, June 28, 2010
Tips sebagai Pemimpin Pujian yang didapatkan dari Workshop bersama Julita Manik
Tahun lalu, gereja saya kedatangan seorang penyanyi rohani or worship leader yang bernama Julita Manik. Buat yang nggak tahu siapa dia, bisa liat nih di blognya dia http://julitamanik.blogspot.com
Lalu, kita ada workshop bersama untuk tim pelayanan pujian dan penyembahan.
Berikut adalah hal-hal yang saya belajar dari workshop tersebut:
Suara:
- Untuk menjaga pita suara, kita perlu untuk minum air setelah bernyanyi dan bernyanyilah dengan menggunakan otot perut atau diafragma
- Tidak ada orang yang suaranya jelek. Semuanya adalah proses pembelajaran karena kita sendirilah yang memproduksi suara kita. Latihan akan membuat suara kita semakin baik
- Tidak boleh makan terlalu kenyang ketika kita akan bernyanyi.
- Untuk meningkatkan kemampuan bernyanyi, kita harus melakukan pemanasan atau biasa disebut dengan vokalisi.
Ada beragam jenis cara untuk vokalisi, seperti melafalkan huruf vocal a i u e o baik dengan tangga nada maupun tanpa tangga nada. Vokalisi bisa ditingkatkan dengan meniti tangga nada dari terendah ke nada tinggi. Kita juga bisa menaikkan range vokal suara dengan vokalisi.
- Ciri suara yang kurang latihan itu bergetar bukan karena fibra.
Pemimpin pujian:
- Standard suara jemat berkisar antara G(rendah) sampai D(tinggi) atau maksimum E
- Lagu pertama sebaiknya jangan menyentuh nada tinggi
- Pemimpin pujian merupakan posisi kunci pada saat bertugas. Apapun yang terjadi pemusik harus taat kepada WL. Bukan berarti sebagai WL kita bisa berbuat sesuka hati kita. Jangan dadakan dalam memberikan lagu dan WL harus berbicara dengan jelas, tidak terlalu cepat.
- Ekspresi itu penting! Harus sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh lagu yang dibawakan. Perhatikan cara bernyanyi dan gaya.
- Usahakan supaya jemaat tetap dipimimpin. Walaupun mereka sedang menyembah Tuhan, WL harus tetap terlihat memimpin
- Jangan biarkan intro dan interlude lagu kosong. Isilah dengan kata-kata yang membangun untuk jemaat.
Semoga apa yang saya tulis bisa menjadi berkat untuk banyak orang yang rindu dan memiliki hati untuk melayani di bidang pujian dan penyembahan.
Soli deo Gloria…
GBu
Lalu, kita ada workshop bersama untuk tim pelayanan pujian dan penyembahan.
Berikut adalah hal-hal yang saya belajar dari workshop tersebut:
Suara:
- Untuk menjaga pita suara, kita perlu untuk minum air setelah bernyanyi dan bernyanyilah dengan menggunakan otot perut atau diafragma
- Tidak ada orang yang suaranya jelek. Semuanya adalah proses pembelajaran karena kita sendirilah yang memproduksi suara kita. Latihan akan membuat suara kita semakin baik
- Tidak boleh makan terlalu kenyang ketika kita akan bernyanyi.
- Untuk meningkatkan kemampuan bernyanyi, kita harus melakukan pemanasan atau biasa disebut dengan vokalisi.
Ada beragam jenis cara untuk vokalisi, seperti melafalkan huruf vocal a i u e o baik dengan tangga nada maupun tanpa tangga nada. Vokalisi bisa ditingkatkan dengan meniti tangga nada dari terendah ke nada tinggi. Kita juga bisa menaikkan range vokal suara dengan vokalisi.
- Ciri suara yang kurang latihan itu bergetar bukan karena fibra.
Pemimpin pujian:
- Standard suara jemat berkisar antara G(rendah) sampai D(tinggi) atau maksimum E
- Lagu pertama sebaiknya jangan menyentuh nada tinggi
- Pemimpin pujian merupakan posisi kunci pada saat bertugas. Apapun yang terjadi pemusik harus taat kepada WL. Bukan berarti sebagai WL kita bisa berbuat sesuka hati kita. Jangan dadakan dalam memberikan lagu dan WL harus berbicara dengan jelas, tidak terlalu cepat.
- Ekspresi itu penting! Harus sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh lagu yang dibawakan. Perhatikan cara bernyanyi dan gaya.
- Usahakan supaya jemaat tetap dipimimpin. Walaupun mereka sedang menyembah Tuhan, WL harus tetap terlihat memimpin
- Jangan biarkan intro dan interlude lagu kosong. Isilah dengan kata-kata yang membangun untuk jemaat.
Semoga apa yang saya tulis bisa menjadi berkat untuk banyak orang yang rindu dan memiliki hati untuk melayani di bidang pujian dan penyembahan.
Soli deo Gloria…
GBu
Teknik Berlatih Paduan Suara by Voice of Soul Choir
Berikut adalah teknik berlatih paduan suara yang saya dapatkan dari Voice of Soul Choir Blog di http://voiceofsoul.wordpress.com/2008/06/30/teknik-berlatih-paduan-suara-tips-dan-trik/
Dalam dunia tarik suara kita mengenal jenis-jenis kelompok vokal seperti Duet, Trio, Kwartet, Ansambel, Paduan Suara dll. Paduan Suara sering kita saksikan pada acara-acara rutin gereja bahkan yang bersifat tahunan misalnya : Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi), Perayaan Paskah/Natal.
Pembinaan Paduan Suara pada umumnya bersifat temporer, artinya hanya dibentuk jika ada event yang membutuhkan dan menyewa pelatih dari luar dengan biaya yang relatif mahal. Padahal bila kita memahami trik/teknik latihan Paduan Suara sebenarnya tidak terlalu sulit dan bisa kita kerjakan sendiri. Yang penting kita bisa membuat program latihan yang baik, tentunya dengan sarana/tempat latihan yang representatif.
KLASIFIKASI PADUAN SUARA
Penulis megklasifikasikan Paduan Suara menjadi 3 (tiga) level, yaitu:
Level – 1 (Penguasaan Materi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan notasi yang tertulis pada partitur.
Tips :
- Nyanyikan panjang pendek not sesuai nilai not pada partitur.
- Nyanyikan tinggi rendah nada sesuai dengan interval nada yang tertulis di partitur.
- Tekankan anggota untuk menghafal syairnya.
Level – 2 (Interprestasi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan interprestasi lagu yang diinginkan oleh komponis maupun aranger lagu tersebut.
Tips :
- Latih keras/lembut suara sesuai dengan tanda dinamik pada partitur. Kalau tidak tercantum pada partitur, dinamik disesuaikan dengan makna syair atau karakter alur melody.
- Latih Artikulasi (pengucapan) syair agar terdengar jelas. Misalnya pengucapan konsonan “r”, “s”, “ng”, serta vokal a, i, u, e, o, sehingga terdengar perbedaannya.
- Perhatikan Intonasi (penekanan) suku kata yang sesuai dengan Birama lagu.
- Perhatikan Frasering (pengkalimatan) agar sesuai dengan kalimat yang benar. Ini dapat dicapai jika dilaksanakan dengan teknik pernafasan yang baik.
- Lakukan pemanasan (vokalisi) yang cukup sebelum pelaksanaan latihan dimulai agar diperoleh Timbre (warna suara) yang menyatu, sehingga tidak ada suara yang menonjol sendiri.
Level – 3 (Ekspresi)
Kriteria : Setelah melalui tahap level 1 dan 2, anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi dengan penghayatan dan dikeluarkan melalui ekspresi.
Tips :
- Latih cara menyanyikan lagu sesuai dengan karakter lagu, misalnya: Lagu/aransemen yang riang dinyanyikan dengan lincah dan riang. – Perhatikan pada aransemen yang terdapat tanda perubahan tempo, misalnya : Accelerando, rittardando, A- tempo dll., agar dinyanyikan dengan tepat sehingga mendukung ekspresi.
- Tidak semua anggota dapat bernyanyi dengan ekspresi. Tempatkan anggota pada posisi central dan banjar terluar (samping kiri/kanan), karena posisi ini mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.
Pembagian Kelompok Suara
Paduan suara umumnya terdiri dari 4 kelompok suara yaitu Sopran, Alto, Tenor dan Bass. Beberapa arransemen ada pula yang membagi Sopran, Meso, Alto, Tenor, Bariton dan Bass. Untuk mendapatkan balance yang baik, perlu pembagian yang tepat untuk masing-masing kelompok. Tips:
- Kelompokan anggota berdasarkan Range/ambitus suara, jangan paksakan penyanyi Alto bernyanyi dikelompok sopran dengan alasan karena kekurangan anggota sopran, demikian juga kelompok yang lainnya.
- Komposisi SATB (sopran, alto, tenor, bass) yang Ideal adalah 3:2:2:3., namun demikian pedoman di atas dapat berubah dengan pertimbangan potensi Power penyanyi yang ada.
Program Latihan
Ada peribahasa “Seberangilah sungai dari tempat yang dangkal” artinya mulailah segala sesuatu dari yang mudah dahulu. Artinya dalam membuat program latihan harus bertahap dari yang mudah dahulu.
Tips :
- Selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian mulai level-2, dst. Contoh : jangan mengajarkan materi level-2 kalau anggota belum semuanya lulus level-1, karena akan sia-sia akibat terpecahnya konsentrasi.
- Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Jika salah satu gerbong tersendat maka gerbong yang lain kecepatanya terpaksa ikut melambat, menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi. Perbaiki gerbong (baca : kelompok suara) yang lemah dahulu, baru kelompok gerbong lainnya.
- Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu banyak menggunakan stacato, perbanyak vokalisi stacato, jika lagu banyak nada panjang, perbanyak vokalisi nada panjang.
- Tekankan anggota untuk membaca not, jangan menghafal not, karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam PS. Setelah anggota dapat menyanyikan notasi dengan benar tekankan untuk menghafal syair.
Dirigen
Dirigen dalam Paduan Suara sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penampilan Paduan Suara. Idealnya Dirigen Paduan Suara merangkap pelatih sejak awal program latihan dilaksanakan, agar secara emosional akan terjalin komunikasi. Namun karena keterbatasan personel di TNI AL yang bisa memimpin Paduan Suara, seringkali Dirigen ditunjuk berdasarkan senioritas, atau dari sukarelawan yang memberanikan diri karena tidak ada yang mau menjadi dirigen. Sebaiknya hal ini dihindari.
Tips:
- Pilihlah Dirigen yang mempunyai wawasan PS lebih daripada anggota Paduan Suara lainnya, jangan berdasarkan senioritas saja.
- Fungsi Dirigen memadukan Suara dari anggotanya sehingga menjadi satu komposisi yang padu dan harmonis. Untuk itu Dirigen harus menguasai materi dengan baik dan benar, sebelum ia memadukan (memimpin) kelompok Paduan Suaranya.
- Dirigen jangan memulai aba-aba jika belum seluruh mata anggota memperhatikan Dirigen, karena kontak mata sangat penting untuk menjalin komunikasi antara Dirigen dan anggota Paduan Suara.
Demikianlah secara singkat Tips berlatih Paduan Suara, semoga dapat bermanfaat.
“Keberhasilan adalah buah dari latihan, namun tanpa disiplin, latihan tidak menghasilkan apa-apa”.
Selamat berlatih . . ..©
Sumber : Kapten Laut (KH) Albert AFR, S
MAJALAH CAKRAWALA TNI – AL
Dalam dunia tarik suara kita mengenal jenis-jenis kelompok vokal seperti Duet, Trio, Kwartet, Ansambel, Paduan Suara dll. Paduan Suara sering kita saksikan pada acara-acara rutin gereja bahkan yang bersifat tahunan misalnya : Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi), Perayaan Paskah/Natal.
Pembinaan Paduan Suara pada umumnya bersifat temporer, artinya hanya dibentuk jika ada event yang membutuhkan dan menyewa pelatih dari luar dengan biaya yang relatif mahal. Padahal bila kita memahami trik/teknik latihan Paduan Suara sebenarnya tidak terlalu sulit dan bisa kita kerjakan sendiri. Yang penting kita bisa membuat program latihan yang baik, tentunya dengan sarana/tempat latihan yang representatif.
KLASIFIKASI PADUAN SUARA
Penulis megklasifikasikan Paduan Suara menjadi 3 (tiga) level, yaitu:
Level – 1 (Penguasaan Materi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan notasi yang tertulis pada partitur.
Tips :
- Nyanyikan panjang pendek not sesuai nilai not pada partitur.
- Nyanyikan tinggi rendah nada sesuai dengan interval nada yang tertulis di partitur.
- Tekankan anggota untuk menghafal syairnya.
Level – 2 (Interprestasi)
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan interprestasi lagu yang diinginkan oleh komponis maupun aranger lagu tersebut.
Tips :
- Latih keras/lembut suara sesuai dengan tanda dinamik pada partitur. Kalau tidak tercantum pada partitur, dinamik disesuaikan dengan makna syair atau karakter alur melody.
- Latih Artikulasi (pengucapan) syair agar terdengar jelas. Misalnya pengucapan konsonan “r”, “s”, “ng”, serta vokal a, i, u, e, o, sehingga terdengar perbedaannya.
- Perhatikan Intonasi (penekanan) suku kata yang sesuai dengan Birama lagu.
- Perhatikan Frasering (pengkalimatan) agar sesuai dengan kalimat yang benar. Ini dapat dicapai jika dilaksanakan dengan teknik pernafasan yang baik.
- Lakukan pemanasan (vokalisi) yang cukup sebelum pelaksanaan latihan dimulai agar diperoleh Timbre (warna suara) yang menyatu, sehingga tidak ada suara yang menonjol sendiri.
Level – 3 (Ekspresi)
Kriteria : Setelah melalui tahap level 1 dan 2, anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi dengan penghayatan dan dikeluarkan melalui ekspresi.
Tips :
- Latih cara menyanyikan lagu sesuai dengan karakter lagu, misalnya: Lagu/aransemen yang riang dinyanyikan dengan lincah dan riang. – Perhatikan pada aransemen yang terdapat tanda perubahan tempo, misalnya : Accelerando, rittardando, A- tempo dll., agar dinyanyikan dengan tepat sehingga mendukung ekspresi.
- Tidak semua anggota dapat bernyanyi dengan ekspresi. Tempatkan anggota pada posisi central dan banjar terluar (samping kiri/kanan), karena posisi ini mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.
Pembagian Kelompok Suara
Paduan suara umumnya terdiri dari 4 kelompok suara yaitu Sopran, Alto, Tenor dan Bass. Beberapa arransemen ada pula yang membagi Sopran, Meso, Alto, Tenor, Bariton dan Bass. Untuk mendapatkan balance yang baik, perlu pembagian yang tepat untuk masing-masing kelompok. Tips:
- Kelompokan anggota berdasarkan Range/ambitus suara, jangan paksakan penyanyi Alto bernyanyi dikelompok sopran dengan alasan karena kekurangan anggota sopran, demikian juga kelompok yang lainnya.
- Komposisi SATB (sopran, alto, tenor, bass) yang Ideal adalah 3:2:2:3., namun demikian pedoman di atas dapat berubah dengan pertimbangan potensi Power penyanyi yang ada.
Program Latihan
Ada peribahasa “Seberangilah sungai dari tempat yang dangkal” artinya mulailah segala sesuatu dari yang mudah dahulu. Artinya dalam membuat program latihan harus bertahap dari yang mudah dahulu.
Tips :
- Selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian mulai level-2, dst. Contoh : jangan mengajarkan materi level-2 kalau anggota belum semuanya lulus level-1, karena akan sia-sia akibat terpecahnya konsentrasi.
- Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Jika salah satu gerbong tersendat maka gerbong yang lain kecepatanya terpaksa ikut melambat, menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi. Perbaiki gerbong (baca : kelompok suara) yang lemah dahulu, baru kelompok gerbong lainnya.
- Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu banyak menggunakan stacato, perbanyak vokalisi stacato, jika lagu banyak nada panjang, perbanyak vokalisi nada panjang.
- Tekankan anggota untuk membaca not, jangan menghafal not, karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam PS. Setelah anggota dapat menyanyikan notasi dengan benar tekankan untuk menghafal syair.
Dirigen
Dirigen dalam Paduan Suara sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penampilan Paduan Suara. Idealnya Dirigen Paduan Suara merangkap pelatih sejak awal program latihan dilaksanakan, agar secara emosional akan terjalin komunikasi. Namun karena keterbatasan personel di TNI AL yang bisa memimpin Paduan Suara, seringkali Dirigen ditunjuk berdasarkan senioritas, atau dari sukarelawan yang memberanikan diri karena tidak ada yang mau menjadi dirigen. Sebaiknya hal ini dihindari.
Tips:
- Pilihlah Dirigen yang mempunyai wawasan PS lebih daripada anggota Paduan Suara lainnya, jangan berdasarkan senioritas saja.
- Fungsi Dirigen memadukan Suara dari anggotanya sehingga menjadi satu komposisi yang padu dan harmonis. Untuk itu Dirigen harus menguasai materi dengan baik dan benar, sebelum ia memadukan (memimpin) kelompok Paduan Suaranya.
- Dirigen jangan memulai aba-aba jika belum seluruh mata anggota memperhatikan Dirigen, karena kontak mata sangat penting untuk menjalin komunikasi antara Dirigen dan anggota Paduan Suara.
Demikianlah secara singkat Tips berlatih Paduan Suara, semoga dapat bermanfaat.
“Keberhasilan adalah buah dari latihan, namun tanpa disiplin, latihan tidak menghasilkan apa-apa”.
Selamat berlatih . . ..©
Sumber : Kapten Laut (KH) Albert AFR, S
MAJALAH CAKRAWALA TNI – AL
Wednesday, April 28, 2010
Tips untuk Pemusik di Gereja
Berikut adalah Tips-tips yang saya baca dari http://gema.sabda.org/node/1916 untuk para pelayan Tuhan di bidang musik dalam mengiringi pujian dan penyembahan di dalam gereja. Semoga Memberkati!
- Berlatih sebelum memainkan lagu tersebut. Yang ini jelas harus dilakukan, sekalipun kita sudah sangat menguasai lagu tersebut dan sudah berulang kali memainkan/menyanyikannya.
- Kenali dahulu karakter lagu. Hal ini berarti kita harus melihat dahulu siapa pencipta lagu itu, di mana dan dalam suasana apa dia diciptakan (konteksnya). Hal ini akan membantu pemusik untuk memainkan ‘suasana’ musik yang benar sehingga dalam mengiringi lagu tersebut pun penguh penghayatan.
- Perhatikan dinamika lagu tersebut! Hal ini harus benar-benar diperhatikan supaya tidak salah pada saat memainkan tempo/intronya. Jika belum tahu lagunya, cari tahu dulu supaya tidak membuat malu jika kita sok tahu.
- Perhatikan birama lagu. Jangan mainkan lagu berbirama 3/4 dengan birama 4/4.
- Mainkan lagu sesuai dengan nada dasar yang telah diberikan. Tetapi jika Anda orang yang sudah mahir, tentu sudah tahu jika akan menggannti nada dasar suatu lagu dan disesuaikan dengan kondisi jemaat.
- Berikan ‘nafas’ pada intro lagu. Jemaat akan lebih mengerti dengan otomatis kapan dia harus mulai bernyanyi ketika pemusik memberi ‘nafas’ pada intro. Artinya, ada bagian yang dimainkan melambat ketika intro akan berakhir dan jemaat akan mulai bernyanyi. Hal ini akan memberi tanda kepada jemaat di mana mereka harus mulai bernyanyi. Berikan juga ‘nafas’ pada bagian interlude dan ketika akan memulai ayat yang baru. Karena itu, iringan yang menggunakan music box akan lebih sulit untuk diikuti Jemaat, karena mereka sulit untuk tahu tahu kapan harus mulai bernyanyi.
- Jangan terpengaruh dengan jemaat. Kadang-kadang Jemaat bernyanyi lebih lambat atau lebih cepat dari tempo yang kita mainkan. Usahakan untuk tetap setia pada tempo yang kita mainkan. Kalau memang sudah terbawa, mainkan kembali tempo yang benar di bagian interlude, agar Jemaat dapat mendengar kembali dinamika yang benar.
- Jangan korupsi nilai not. Mainkan not yang bernilai 3 ketuk sebanyak 3 ketuk juga. Banyak pemusik gereja yang mengkorupsi harga not dan memainkannya lebih cepat dari yang seharusnya.
- Apabila memungkinkan, penggunaan alat musik yang lain di luar piano dan organ seperti tifa, rebana, tamborin, gitar dapat digunakan untuk menambah variasi iringan. Penggunaan alat-alat musik ini juga harus melihat konteks lagu. Menggunakan tifa untuk lagu “Tabuh Gendang” akan lebih sesuai daripada lagu “Sungguh Lembut Tuhan Yesus Memanggil”. Tidak semua Gereja terbuka bagi hal ini, karenanya konsultasikan dahulu dengan Majelis Gereja.
- Hal yang terakhir dan yang tidak kalah pentingnya adalah meminta bimbingan Tuhan sebelum mulai mengiringi nyanyian Jemaat. Ingatlah bahwa kita bermain musik untuk mengiringi Jemaat bernyanyi memuji Tuhan, dan bukan bermain musik di tempat-tempat umum lainnya. Selain itu, hal ini akan membantu pemusik lebih tenang dan percaya diri.
Pemanasan Suara sebelum pelayanan
Ini ada artikel yang saya dapatkan dari website:
http://r0ch4.wordpress.com/2009/01/09/pemanasan-sebelum-manggung/
Semoga bisa membantu teman-teman untuk pemanasan suara sebelum memimpin pujian atau menjadi singer/choir di gereja.
vokal adalah instrumen yang sangat unik, dan instrumen vokal bukan cuma pita suara kamu aja, tapi termasuk diafragma, lidah, juga resonance bodynya adalah muka.
hati2 memperlakukan vokal kamu. suara metal boleh2 aja asal kita sadar betul bahwa itu hanyalah efek. banyak penyanyi rock yang harus operasi karena timbul nodal di tenggorokannya.
nodal adalah daging yang tumbuh akibat resistance terhadap paksaan. jadi kalo kamu nyanyi dipaksa terus-menerus, bisa tumbuh nodal. jadi pemanasan itu penting, bukan biar suara lo bagus aja, tapi buat keselamatan vokal kamu. karena vokal kamu adalah asset yang sangat berharga pemberian Tuhan.
cara pemanasan yang simple, nyanyi aja pelan2 major scale (do re mi dst.) naik turun. atau hanya naik ke 5th (sol) turun lagi. jangan pernah paksain sampe tinggi2, nanti kalo suara udah panas, rangenya otomatis bakal nambah sendiri kok.
untuk pemanasan diafragma, nyanyi do re mi re do, dengan “HO” jadi ho ho ho ho ho dan rasakan bagaimana diafragma lo memberi penekanan untuk power.
Tuhan memberkati
http://r0ch4.wordpress.com/2009/01/09/pemanasan-sebelum-manggung/
Semoga bisa membantu teman-teman untuk pemanasan suara sebelum memimpin pujian atau menjadi singer/choir di gereja.
vokal adalah instrumen yang sangat unik, dan instrumen vokal bukan cuma pita suara kamu aja, tapi termasuk diafragma, lidah, juga resonance bodynya adalah muka.
hati2 memperlakukan vokal kamu. suara metal boleh2 aja asal kita sadar betul bahwa itu hanyalah efek. banyak penyanyi rock yang harus operasi karena timbul nodal di tenggorokannya.
nodal adalah daging yang tumbuh akibat resistance terhadap paksaan. jadi kalo kamu nyanyi dipaksa terus-menerus, bisa tumbuh nodal. jadi pemanasan itu penting, bukan biar suara lo bagus aja, tapi buat keselamatan vokal kamu. karena vokal kamu adalah asset yang sangat berharga pemberian Tuhan.
cara pemanasan yang simple, nyanyi aja pelan2 major scale (do re mi dst.) naik turun. atau hanya naik ke 5th (sol) turun lagi. jangan pernah paksain sampe tinggi2, nanti kalo suara udah panas, rangenya otomatis bakal nambah sendiri kok.
untuk pemanasan diafragma, nyanyi do re mi re do, dengan “HO” jadi ho ho ho ho ho dan rasakan bagaimana diafragma lo memberi penekanan untuk power.
Tuhan memberkati
Friday, April 09, 2010
Tips sebagai Pemimpin Pujian
Berikut adalah tips-tips sebagai pemimpin pujian yang saya dapatkan dari http://gema.sabda.org/tips_sebagai_pemimpin_pujian
- Sebagai Pemimpin Pujian kita harus “bersih” dengan tugas kita sebagai Pemimpin Pujian. Tujuannya: Membawa jemaat ke dalam hadirat Tuhan dan agar mereka bisa berdiam dan merasakan hadirat Tuhan, mempersiapkan jemaat untuk ditaburi dengan firman Tuhan, menciptakan atmosfir surgawi.
- Dalam mempersiapkan lagu pilihan tema untuk setiap minggunya, misalnya tema untuk minggu ini adalah perayaan pujian, jadi lagu-lagunya menjurus tentang perayaan, atau mungkin temanya adalah intimasi. Agar memiliki tema dalam suatu kebaktian, kita harus peka terhadap pimpinan Tuhan dan juga berkomunikasi dengan pemimpin/pendeta kita.
- Praktis dan berikan yang terbaik buat Tuhan. Bangun talentamu!
- Jangan memaksakan jemaat, pimpinlah dengan iman dalam naungan Roh Kudus. Tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan jemaat, pemusik, singers, contohnya: kontak mata, bangun hubungan antara kita dengan team, tanda-tanda lewat tangan.
- Jadilah dirimu sendiri karena kita mempunyai panggilan dan keunikan masing-masing. Jangan mencoba untuk menjadi orang lain. Kita harus menjadi kokoh dan tahu bahwa Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang Ia inginkan. Kita mempunyai peranan penting. Jadi bekerjalah dari dalam karena apa yang ada di dalammu itulah yang akan mengatur apa yang akan kau lakukan.
- Berkomunikasilah dengan pendeta. Kadangkala ada waktu-waktu tertentu dimana pemimpin pujian dan pendetanya harus duduk dan merencanakan untuk perkembangan dan rencana untuk Team Pujian dan Penyembahan dan dibawah kontrol (visi) pendeta. Milikilah hubungan yang kuat dengan gembala dan bekerjalah dengannya dan bergerak bersama dengan visi gembala. Ibr 13:17, bekerja di bawah otoritas gembala, dan melayani dalam visi di rumah Tuhan. Mempunyai komitmen dengan gembala demi kesuksesan di dalam segala hal. Setan suka sekali mencoba untuk menghancurkan hubungan antara WL (Worship Leader) dan pendeta supaya gereja itu tidak bisa berkembang, sebelumnya kita harus memecahkan tembok itu dan bersama dengan pastor kita maju (1 Pet. 4:10). Kita berlari arena yang sama, kita harus lari bersama. Mazmur 81;15. penundukan diri datang dari hati kita.
- Setialah kepada team, tingkatkan komitmen di dalam team. Bangun hubungan yang baik dan kesatuan di dalam satu team.
- Disiplinlah, contohnya: tepat waktu, kehadiran….
- Rendahkanlah dirimu, jangan pernah mempunyai tujuan untuk mencari promosi, tetapi sebagai WL, kita harus belajar untuk meletakkan diri kita di balik salib-Nya sehingga hanya Dia yang dimuliakan. Tudung pelayan adalah kunci keberhasilan sukses kita. Di manapun letak posisi kita, apapun yang kita lakukan kita harus memiliki sikap seorang hamba yang tujuannya hanyalah untuk menyenangkan Tuannya.(Filp. 2:3-11). Layani dengan iman yang penuh (Ayb. 23:11-14). Layani dengan sikap hati yang benar (I Pet 4:10-11)
- Bangkitlah para pemimpin baru. Jangan takut dengan pemimpin baru, kita harus menjadi orang besar yang tahu bagaimana melepaskan segala sesuatu dalam panggilan-Nya. Jangan cemburu dengan keberhasilan orang lain, melainkan kita harus merasa aman dan yakin dengan diri kita, dan senang dengan keberhasilan orang lain.
- Mempunyai ketrampilan untuk memimpin dan berlatih serta memberikan yang terbaik untuk Allah. Melayani dengan roh yang luar biasa (roh yang ingin memberikan yang terbaik) bukan roh yang perfeksionis (roh yang ingin membuat segala sesuatu sempurna dan segala sesuatu teratur) tetapi kita perlu mengetahui pada saat kita memberikan yang terbaik dari dalam hati kita, sehingga Tuhan akan membuatnya sempurna di mata Dia dan bukan di mata manusia.
- Jangan mencoba untuk menyenangkan diri sendiri karena itu kita berarti kompromi.Tetapi apapun yang kita lakukan kita harus menyenangkan Tuhan. Terkadang kita harus mengambil langkah untuk taat agar Allah mengambil alih, karena seringkali sebagai WL kita mencoba untuk menyenangkan orang-orang lain bukan menyenangkan Tuhan, karena kita takut ditolak oleh orang. Oleh sebab itu kita harus punya fokus untuk menyenangkan Tuhan dan menjadi aman dengan diri kita, sehingga kita tidak takut ditolak orang, tetapi kita bisa berdiri dan berada dalam penguasaan Allah.
- Untuk menjadi seorang penyembah yang benar, itu merupakan suatu proses kehidupan kita, sehingga kalau kita mau diproses Tuhan, kita tidak boleh lari karena Dia sedang membentuk kita untuk menjadi bejana-Nya yang indah. Seberapa lama sih prosesnya itu? Hidup adalah sebuah perjalanan dan demikian juga dalam penyembahan. Seberapa lama proses kita itu tergantung dengan diri kita, dan bagaimana kita meresponi proses tersebut. Apakah kita taat atau malahan kita menunda proses-Nya sehingga kita harus tahu bagaimana tinggal di dalam proses dan tinggal di dalam Allah.
- Intinya sebagai WL kita harus mengerjakan 4”S” dalam pelayanan, yaitu Skill /trampil (kemampuan secara tehnik, memahami dasar pengetahuan tentang musik.), Maz. 33:3. Sensitivity/kepekaan terhadap Roh Kudus, terhadap orang lain, dan terhadap arus pimpinan Tuhan (Gal 5:16). Submission/kepatuhan, coba lagi dan coba lagi, karena ini adalah bagian terpenting sbg WL. Kita harus tahu bagaimana tunduk kepada otoritas di atas kita. Tunduk kepada Tuhan dan otoritas di atas kita. Sanctification/Kekudusan, adalah proses dijadikan murni (menjadi seorang pribadi yang utuh), sedang dipisahkan (Rom. 5, Filp. 1:6, I Tes. 5:23, Ef. 1:4, Kol. 1:10,23)
- Jadilah nyata! Jangan memakai topeng! Sebagai penyembah-penyembah yang benar, kita harus menghidupi kehidupan dan karakter Kristus, jangan hanya bisa menyembah di atas panggung tetapi berbeda dengan kehidupan di bawah, sehingga kita menjadi orang munafik. Karena itu, marilah berada dalam suatu hidup yang nyata!!
Subscribe to:
Posts (Atom)